Senin, 18 Mei 2015

Serunya Makan Makanan Korea di Seoul Street (Tteokbokki, Jjajangmyeon, Gimbap, Ocha Korea)


*Whatsapp*

Kamis, 7 May 2015
Eswe   : "Besok makan teobokki yukkss"
Mimi   : "Serius?"
Mimi   : "Pedes"
Mimi   : "Nnt lu tepar lagi deh"
Eswe   : "Kagak.. Bener.. Gak pedes amat paling"
Eswe   : "Dikit aja kalo pedes beneran mah"
Mimi   : "Yaudh"
Mimi   : "Bsok ya"

Jumat, 8 May 2015
Mimi   : "Tay jadi apa engga?"
Eswe   : "Jadi yukk"
Eswe  : "Tp jgn lama2 besok gue berangkat pagi ke rmh voni"
Eswe   : "Entar gue turun tosari"
Mimi   : "Oke.."
Mimi   : "Nnt lu turun tosari"
Mimi   : "Iyak"
Mimi   : "Dr tosari lu jalan ke arah sevel"
Mimi   : "Lurus terus ampe lobi GI"
Eswe   : "Trus lu jemput gue di sevel?"
Mimi   : "Nnt w jemput d situ"
Mimi   : "Engga"
Mimi   : "Kejauhan tar lama lagi"
Eswe   : "Lobi gi mananya sevel"
Mimi   : "Nnt ampe GI kan"
Mimi   : "Lurus terus tay"
Mimi   : "Nnt w jemput d situ"
Eswe   : "Lobi GI belakang itu kan? Sevel yg di dalem gg depan menara bca"
Mimi   : "Iyak"
Mimi   : "Jgn nyebrang dr sevel"
Mimi   : "Lgsg lurus aja"

Begitulah percakapan kita di sore hari sebelum pulang kerja yang menjadi awal perhelatan seru hari ini. Hingga tibalah di Halte Busway Tosari waktu itu selepas Maghrib. Sambil berjalan kaki menuju tempat yang sudah diberi tahu Mimi tadi, gue mencoba menghubungi Mimi lagi via telpon. Entah kenapa kali ini, ketika menelpon Mimi, gue bisa denger suara dia dan dia gak bisa denger suara gue. Udah beberapa kali dicoba tetap aja sama. Akhirnya gue memutuskan untuk berkomunikasi via Whatsapp kembali....

Eswe   : "Mi gue udh di seberang shinta lobby"
Eswe   : "Mananya?"
Eswe   : "Gue denger suara lu, tp kayaknya lu gak denger gue"
Mimi   : "G ada suara"
Mimi   : "Tunggu"
Mimi   : "D stu aja"
Eswe   : "Bener di seberang shinta lobby?"
Mimi   : "Jaraknya lmyn jauh"
Mimi   : "Iya"
Eswe   : "Oke"
Mimi   : "I promise not until 10 minutes"
Eswe   : "Just ahead"
Eswe   : "Depan astrido kan yak"
Eswe   : ":|"
Eswe   : "Gue pake baju merah lagi ngejogrog di warung kaki lima"
Eswe   : "Whatsapp aja mi.."
Mimi   : "Oh"
Mimi   : "Oke"
Eswe   : "Masih lama?"
Mimi   : "W dpn sl loung"
Mimi   : "Lu ke perapatan deh"
Eswe   : "Ah males.. Elu aja sini"
Eswe   : "Td suruh nunggu sini"

Tunggu menunggu pun diakhiri dengan kedatangan Mimi dari sisi jalan yang gelap *udah kayak Voldemort aja*.
Jalanlah kita ke arah Grand Indonesia malam itu. Lumayan ramai, karna mungkin ini malam Sabtu dan besok adalah malam Minggu *apasih*. Tujuan awal adalah menuju Mushola GI di salah satu bagian gedung yang bisa dibilang membuat gue bingung gue ada dimana. Tapi FYI aja, musholanya super nyaman. Jadi waktu masuk GI, langsung turun eskalator ke lantai bawahnya dan deket area foodcourt atau apalah itu namanya. Ada pintu keluar, dan kita mesti keluar dulu. Jangan sampai salah pintu. Keluar lewat pintu yang ada papan petunjuk ke arah mushola dan kantin.
Sampai lah di depan pintu masuk mushola. Gue dapati banyak sekali jamaah yang baru saja selesai sholat magrib yang sedang memakai sepatu di dekat pintu masuk tempat penitipan barang mushola. Layaknya loket penitipan barang di banyak tempat, yang gue kasih ke mbak-mbak penjaga loket berjilbab itu adalah tas gue yang segede bagong. Tanpa berpikir apa-apa sebelum 5 detik berlalu dengan acara tatap tatapan sama mbak penjaga loket itu. Wajah mbaknya bingung, nyetrum dan membuat gue juga bingung dalam 5 detik terakhir. Apa gue sedang melakukan suatu lelucon dengan tas ini?? Dan mungkin entah berapa pasang mata di belakang gue mengamati tingkah gue yang kikuk itu.
"Alas kakinya mbak," mbak berjilbab penjaga loket itu memecah kebingungan 5 detik itu.
"Oh.. ya.. sepatu Mi.. copot.. hehehe" jawab gue tengsin mencoba 'sedikit' nge-blaming Mimi.
Sudah terima nomor penitipan kita cepat-cepat beranjak menuju mushola.
"Gue juga baru ini ke Mushola ini Tay" alibi yang dirasa sedikit keren untuk ukuran orang yang bekerja di Hotel Indonesia. Sedikit.

Selesai sholat Maghrib kami pun segera pergi ke ATM untuk menarik beberapa lembar lima puluh ribu rupiah asli tidak jauh dari food court. Setelah kami dapati beberapa lembar uang lima puluh ribu rupiah asli bertengger manis di dompet kami, segera kami menuju outlet masakan korea yang sudah membuat perut kami salah tingkah. Kami pun mendaratkan pesanan kami pada restaurant yang bernama "Seoul Street".

Karna udah penasaran dari lama banget seperti apa itu yang disebut "Tteokbokki Korea" kayak yang di drama-drama korea biasa disebut "Kue Beras Pedas". Karna penampakannya yang merah pedas, menggugah rasa penasaran yang amat sangat gadis yang tidak terlalu fanatik dengan drama korea ini. Tidak terlalu banyak menu yang tercantum dalam daftar menu. Namun semua yang tertera pada tulisannya, sepertinya familiar di otak gue. Kebanyakan adalah masakan populer di drama-drama korea seperti Jewel in The Palace, Princess Hours, Boys Before Flowers, Full House, dan lainnya. Maapin gue yakk gak banyak tau drama korea.

Kita berdua pun memesan 2 gelas Ocha Korea Dingin yang gue pikir kalo orang Indonesia bilangnya Es Teh Manis. Lalu menu utama Teobokki si Kue Beras Pedas itu. Kemudian Jjajangmyun si Mi Hitam dan Gimbap si Sushi Korea.

Entah apa yang ada di pikiran gue, gue berpikir akan menghabiskan semuanya dalam sekejap.. Hahhaa.. Berhasilkah??!! *evil laugh*

Tteokbokki
Menu pertama yang datang adalah tteobokki dan ocha korea. karna udah gak sabar, akhirnya gue langsung menggarap itu piring tteobokki buat difoto, bukan buat dimakan bukan... hahha *anak muda yang kekinian*
Pertama nyobain sausnya yang dibilang orang pedes, ternyata rasanya agak sedikit seperti taucho atau kuah asinan sayur. Pedasnya malah gak ada. Berasa sih bubuk cabenya. Tapi agak lebih ke rasa kedelai fermentasi dicampur rasa gurih dan sedikit manis. Cocok sih sama lidah Indonesia. Tapi kalo tampilannya pedes tapi ternyata menipu, masih tetep kurang sih menurut gue.
Dalam sajian sepiring tteokbokki terdapat kue beras pedas. Rasanya gak jauh beda sama cilok bandung yang setengah mateng. Padet, super kenyel, dan gak ada rasa sama sekali. Ada bihunnya juga. Tapi ini bukan bihun biasa. Entah terbuat dari apa, ini bihun super kenyel. Dan waktu gue makan ini bihun, kagak pake gue kunyah dulu. Langsung telen. *jangan bilang-bilang mimi* Kemudian ada sedikit irisan asinan wortel dan timun. Juga ada beberapa slice lembar seperti kembang tahu, tapi rasa bakso. Entah apa lah itu namanya. Juga ada seonggok telur ayam rebus bertengger sebagai icon lidah Indonesia... *ngarang*. Tak lupa dengan taburan biji wijen untuk mempercantik tampilan. Harganya kisaran Rp 36 ribuan. Gak tau persis karna billing dipegang sama Mimi.
Ocha Korea Dingin yang gue kira seperti Es Teh Manisnya Indonesia, ternyata salah besar. Pas serrruuppuuuuuuttt.... Yeaakkss.. Rasanya kayak air kopi pahit tapi bening gitu. Dingin, pahit, rasa kopi, bening. Lelucon macam apaa iniiii !!!!! aaaakkkkkkk.... >O<

Jjajangmyeon
Menu kedua adalah pesanan si Mimi. Mie Jjajangmyeon atau Mi Hitam. Mie nya super kenyal, super tebal, dan ngenyangin yang pasti. Teksturnya kayak kalo kita bikin mie sendiri di rumah pake gilingan mie yang agak gede-gede *gue pernah berhasil membuat itu*. Kemudian disiram dengan saus kedelai hitam fermentasi. Kalo di film korea biasanya para ibu-ibu akan mengubur kendi-kendi besar berisi saus kedelai ini di dalam tanah di belakang rumahnya. Katanya semakin lama dikubur di dalem tanah, semakin lezat rasanya.
Dalam saus kedelai hitamnya ada potongan-potongan sayur sebesar dadu. Seperti, kentang, lobak, wortel, daging, dan unexplained things lainnya. Rasanya manis dan gurih. Tapi manis lebih mendominasi sehingga perut sudah terasa begah walaupun baru masuk beberapa suap saja. Tak lupa ada hiasan irisan mentimun dan taburan biji wijen diatasnya. Harga per porsi sekitar Rp 38 ribuan. Masih dibawah Rp 40 ribu lah.. Ketika mie dan saus kedelai hitam kita campur, yakkk apa yang ada dihadapan kini lebih mirip Mie Semur *ngarang banget sebutannya*.

Saus Gimbap
Gimbap
Menu ketiga adalah Gimbap. Pesanan paling favorit dan paling enak sesuai ekspektasi. Si Sushi Korea ini punya tekstur dan rasa yang bikin nagih. Nasinya seperti nasi Jepang. Kalo dikunyah berasa makan ketan. Kenyal. Isi dari gulungan Gimbap ini adalah irisan mentimun, wortel, daun bawang, dan potongan daging sapi dan daging ayam. Dibalut nori dan tidak lupa ditaburi biji wijen *kenapa harus wijen? kenapa selalu dia?? kenapa??*
Pose termanis
Cara makannya adalah gulungan Gimbap di cocol ke saus Gimbap nya. Rasanya gurih dan sedikit manis dari nasinya. Makan Gimbap ini paling menantang. Kenapa? Karna satu gulungan itu wajib masuk mulut semua. Jadi lah kita harus mangap yang lebar dan mulut susah mengunyah karna terlalu penuh dengan gulungan Gimbap nya.
Harga satu porsi Gimbap sama. Kisaran Rp 35 ribuan. Tapi yang paling gak bikin nyesel adalah pesen Gimbap karna ini makanan yang paling enak dari pesanan lainnya.

Namun kembali ke misi awal. Pesanan yang membuat penasaran di awal adalah tteokbokki. Maka dari itu saya berkonsisten untuk menghabiskan tteokbokki lebih dahulu. Sesuap, dua suap, dan nnggaaappp!! Pada akhirnya dengan sok kuat untuk menghabiskan semuanya, acara makan malam kali ini diperlambat dengan obrolan-obrolan yang kurang penting. Agar supaya makanan yang dipesan tetap habis walaupun lama.
"Perasaan waktu pesenan dateng tadi, gue bilang sedikit yak Mil. Tapi ternyata beberapa suap aja udah gak abis," kata gue sambil sering-sering narik napas biar space di lambung agak longgar walaupun sedikit. Dan gue masih berjuang sampe Tteokbokki pesenan gue habis.

Tampang yang mulai ngaaapp !!
Ngeliat si Mimi yang sedang mati-matian berjuang menghabiskan Jjajangmyeon nya bikin gue nahan ketawa. Karna beberapa kali dia bilang kalo dia lagi program diet dan space lambungnya sudah tidak sebesar sebelumnya. Teman durjana macam apa aku ini ??!!! Menghasut teman sendiri untuk gagal diet.. ahahhaha... Maap ya Mil... Tapi enak kan ?? Tapi gue salut sama lu Mil. Walaupun udah ngap, masih aja lu berniat beli Jjajangmyeon instant di Ranch Market.

Mari kita laknat saja makanan yang terlihat sedikit itu !!!

Setelah Tteokbokki ludes dimakan perut godzila yang mulai melemah, kini saatnya Mimi berkoar-koar minta dibantu menghabiskan Jjajangmyeon nya. Padahal Gimbap masih bertengger indah di piring serta melambai-lambai menggoda minta dimakan. "Yaudah mil, kalo gak abis gausah diabisin, udah ngap. Ini lagi berjuang biar muat buat ngabisin yang ini," kataku sambil nunjuk Gimbap yang super lezat itu. Nyyaaamm...

Setelah jeda mengobrol cukup untuk mengatur space perut godzila yang sedikit mengosong, gue pun melanjutkan peperangan ini untuk menyerbu piring Gimbap yang cantik itu. Lahap satu persatu. Ngap sih... Tapi mubadzir kalau ditinggalin gitu aja.. Untung Gimbap nya enak. Jadi rada semangat buat ngabisin gulungan demi gulungan.

Sampai pada gulungan terakhir daaannn.... Weeelllll ddoonneeee.... !!!! Alhamdulillah habis. Dan hanya menyisakan puing-puing naas hasil pemberontakan kita pada makan malam istimewa kali ini.
Puing - puing cantik

Dengan perasaan merdeka, kita pun akhirnya mengakhiri pertempuran ini. Pertempuran yang membuat kita bertambah gendut saja. Pertempuran yang membuat kita merasa bangga lahir sebagai pemenang dalam menaklukkan makanan lidah Korean ini.

Seluruh makanan yang kita makan hari ini berjumlah Rp 138.000,-. Untuk seporsi Tteokbokki, seporsi Jjajangmyeon, seporsi Gimbap, dan dua gelas Ocha Korea si kopi pahit bening itu. Yeaakkss...

Pulang pun kami terlunta-lunta karena perut naga dan perut godzila sudah terisi penuh. Alhamdulillah... Akhirnya udah gak penasaran lagi sama makanan korea ini. "Gimana? kapok gak makan begini lagi??" tanya Mimi. "Enggak sih tapi kalo disuruh beli lagi, gue lebih milih menu yang lainnya aja."

-Eswe 22th-
Seoul Street, Grand Indonesia, Jakarta
Senin, 11 Mei 2015

SURAT CINTA JAKARTA - MEKKAH



Ia telusuri jalan cinta ini. Tanpa kompromi, lagi dan lagi. Jakarta, 2015. Bahkan ia lupa entah berapa lama cinta ini menjalar ke setiap sulur saraf. Siapa sangka segini mabuknya, ketika gadis Jakarta mendengar kata Mekkah. Air mata berjejalan di pelupuk, berkata dalam hati "labbaik allahuma labbaik... labbaika laa syarika laka labbaik..."

Masih belia, belum tua. Cintanya pedih sekaligus nikmat dirasa. Tapi apa daya, yang dimilikinya hanya harapan. Ia genggam erat, tak pernah melepasnya. Cinta yang dirasa hanya bayang-bayang. Gambaran bangunan kubus hitam dihadapannya sangat jelas, walau hanya dalam mimpi.

Kasihan sekali gadis ini. Lemah, memohon, dan merajuk. Tutur katanya tersumbat melahirkan irisan pedih dalam hati ketika lagi-lagi seseorang didekatnya pulang dari Ummul Qura. Ya, iri hati sekaligus senang saudaranya telah mendapat undangan agung bertamu ke rumah Mu Ya Allah. 

Bukan air zam zam atau kurma, bukan pula buah tangan arab yang ia tunggu. Tapi sepenggal kisah yang sangat membuatnya bersemangat. Kisah yang melambungkan angan-angannya berada di tempat yang sama. Yang membuatnya bercucuran air mata tanpa sebab. Yang menjadikan lututnya lemas tak bertulang ketika gambaran jelas Ka'bah melintas dalam bayangnya. 

Aduhaaii Allah... sesak tangis gadis ini sulit sekali tertahan. Pedihnya menyayat hati, namun nikmat dirasa.. Entah apa yang akan ia lakukan saat benar-benar berada di depan Ka'bah Mu itu. Ah... gadis ini terlalu malu untuk berada dekat dengan jejak Mu Ya Rabb.

Mungkin matanya akan membengkak sebab terlalu banyak menangis. Menangis karna malu terlalu banyak dosa. Malu karna hafalan Al Quran nya tak seberapa. Malu karna sedekahnya sangat sedikit. Malu karna hati masih kotor. Malu karna niat banyak bengkok. Malu Ya Allah, malu...

Pantaskah gadis ini berharap mendapat undangan agung dari Mu Ya Rabb...

-Eswe 22th-
Moevenpick, Jeddah Al Nawras, Saudi Arabia
Minggu, 03 Mei 2015

"Cuma Mau Bilang, Itu Retsletingnya Kebuka"


Di suatu kesempatan lagi-lagi saya membiarkan telinga saya mendengarkan curahan hati seorang teman yang sedang komplain habis-habisan perkara masalah yang sedang ia hadapi. Karna entah kenapa, kebiasaan saya adalah senang sekali mendengar berbagai macam cerita dan keluhan dari orang sekitar saya, bahkan orang yang baru ketemu sekalipun.
Berawal ketika saya sedang berada dalam satu acara, karna sudah seringnya dia curhat ke saya, jadi sikap saya pun sudah seperti biasanya, mendengarkan. Kali ini saya melihat masalahnya sungguh pelik -sepertinya- sampai-sampai emosinya meletup-letup dan menghasilkan beberapa hewan di kebun binatang serta ejekan-ejekan yang menyakitkan hati. Walaupun sebenarnya ungkapan kotor itu bukan diperuntukkan ke saya, namun sebagai seorang pendengar saya pun terbiasa bisa memposisikan diri saya sebagai teman saya itu ataupun "terdakwa" yang sedang dicaci maki tanpa tahu sedang dicaci maki.

Insan-insan yang banyak kekurangan
"...lo tau kan kalo tabiat dia kayak gitu. Gue gak habis pikir. Gak pernah berubah tuh orang. Kalo sampe gue ketemu dia lagi, gue jambak tuh bibir sampe dia kapok. Udah gitu masa duit gue gak dikembali-kembaliin. Kan, b*ngs*t... Ngomongnya mau tanggal 1 dibayar, ehhh... ditagih malah marah-marah. Gak cuma itu, dia malah jelek-jelekin gue ke temen-temen. Dasar m*ny*t emang tuh anak... Kalo ditagih langsung ngungkit-ngungkit kejelekan gue yang lalu-lalu. Padahal apa, gue juga sering baik kok sama dia. Sering juga bayarin dia makan. Pas dia kepentok dikit, sekarang gue yang disalahin. Seharusnya dia nyadar dong. Kalo miskin mah miskin aja... Gausah sok bergaya minjem-minjem segala..."

Banyak orang lupa ketika hendak pergi keluar rumah hal-hal kecil sering dia lupakan. Mematut-matut diri di depan cermin tetapi yang dia perhatikan hanya sekitar daerah wajah yang pada umumnya wajah adalah bagian yang paling sering diperhatikan orang lain. Persiapan berjam-jam ia lakoni hanya agar wajahnya tampak berseri ketika bertemu banyak orang di luar sana. Paling mentok ialah memperhatikan se necis apa pakaian yang hendak dipakainya keluar rumah. Paduan warna yang pas di badan atau model yang harus kekinian menjadi hal yang sangat penting.

Ketika teman saya itu tidak henti-hentinya menyalahkan apa yang diperbuat si "terdakwa" yang bisa saya lakukan hanya mendengarkan, lalu mendengarkan, dan tetap mendengarkan. Selain itu saya hanya bisa tersenyum. Karna tak ada jeda sedikitpun yang bisa saya sela untuk sekedar memberi komentar kecil atau ungkapan singkat.

Orang sangat suka didengar, karna hukumnya setiap orang sangat suka didengar, maka kita sering sekali lupa mendengarkan orang lain. Karna bisa jadi orang yang hobi mendengarkan seperti saya juga butuh didengar. Entah itu karna saya punya sebuah kisah atau sebuah nasihat. Intinya setiap orang butuh didengar. Ingat kan??!! Kesuksesan sebuah agen asuransi ialah setia mendengarkan keluhan nasabahnya. Kalau perkaranya anda sangat butuh didengar, maka kesimpulannya orang lain pun menginginkan hal yang sama. Jika anda terlalu sibuk bercerita, maka anda sedang tidak berinteraksi dengan orang lain, namun sedang bercerita dalam novel.

Tipsnya adalah lihatlah diri sendiri dulu sebelum mencaci atau mengomentari orang lain. Jika dirasa sudah hampir sempurna -karna tidak ada makhluk yang sempurna- maka silakan anda mencaci, menjelekkan, dan mengomentari orang lain. Tapi anda harus ingat bahwa sesungguhnya mencaci dan menjelekkan orang lain itu adalah ketidaksempurnaan makhluk yang bagi anda diri anda terasa sudah sangat patut dihargai sebagai hampir sempurna. Dalam hal mengomentari pun sama. Ketika mengomentari seseorang, berikanlah komentar yang membangun dan tidak memperolok "terdakwa". Tidak menjadikan "terdakwa" sebagai bahan guyonan orang-orang juga berikan nasihat positif untuknya barangkali dia sadar dan bisa berubah.

Pasti ada di dalam diri kita kekurangan-kekurangan walaupun hanya sekecil untaian benang yang menjulur di sudut baju. Jika kita tidak teliti dengan diri kita, benang yang menjulur tadi akan tetap berada di sudut baju kita sampai kita selesai berinteraksi dalam seharian ini. Kalau saja kita teliti dengan benang tadi, mungkin kita akan mengguntingnya agar pakaian kita terlihat sedikit rapi dari sebelumnya. Atau ketika kita tidak sadar dengan benang tersebut saat keluar rumah, bisa jadi teman kita yang teliti dengan penampilan kita akan memberitahu keberadaan benang tersebut dan seketika itu pula kita akan mengguntingnya. Dan kini penampilan kita jauh lebih menarik karna teman kita. Itulah pentingnya mendengarkan.

Setelah teman saya itu bercerita berjam-jam lamanya tanpa jeda, dan mungkin dia agak bingung melihat saya senyum-senyum saja sedari tadi kemudian ia bertanya, "Lo kenapa senyum-senyum mulu sihh... Orang temen lu lagi kesel juga... "
"Enggak kok. Cuma mau bilang, itu retsletingnya kebuka..."
Teman saya pun gelagapan salah tingkah.


-Eswe, 22 th-
Sedang menasihati diri sendiri di bawah Blarney Castle - Irlandia
Rabu, 08 April 2015

Pilih Mana ??


Eswe dan teman-teman kantornya
Sebuah pilihan mudah, banyak orang tahu, tapi tetap saja terjerumus...
*Pilih Berdamai dengan Hati Sendiri atau Berdamai dengan Hati Orang Lain ??*

Jika saya menjadi anda, saya akan memilih Berdamai dengan Hati Orang Lain. Sebab apa, hati ini selalu bisa dikompromi. Tapi itu salah - setidaknya salah menurut saya pribadi. Ada hal yang membuat kita terkadang terlalu memikirkan orang lain. Tapi sebaiknya hati sendiri jangan diabaikan.
Misalnya :
Ketika anda dihadapkan dengan keadaan dimana orang lain membuat fokus anda tertuju padanya. Apa yang ia minta dari anda akan anda penuhi. Dan apapun kesalahannya akan anda maafkan. Ya, anda sedang jatuh cinta. Tapi ingat, pepatah lama lebih sering benar "Cinta itu buta". Ya, kini anda jatuh cinta padanya. Hati anda selalu memaklumi dan secara otomatis memiliki kadar kesabaran lebih tinggi dari biasanya. Kata-katanya selalu benar dan tidak satu pun kesalahan yang tak dimaafkan oleh hati anda.
Anda tahu apa yang sedang anda lakukan? Betul sekali, anda lebih nyaman Berdamai dengan Hati Sendiri. Hati anda selalu saja berkata, "tidak apa-apa. Barangkali ketika aku memaafkannya dia akan berubah dan tidak mengulangi kesalahannya." atau "tidak apa-apa. Barangkali dia sedang lalai atau lupa. Semoga saja dengan aku memakluminya dia akan berubah dan tidak mengulangi kesalahannya." dan tidak apa-apa lainnya...
Anda adalah manusia biasa yang memiliki perasaan yang sama. Yang juga harus dimengerti oleh orang lain. Bukan berarti saya mengajarkan anda sekalian untuk egois dan jauh dari sifat pengertian. Bukan itu. Yang saya maksudkan di sini ialah kemampuan anda dalam mengolah hati anda secara tegas dan benar lebih baik ketimbang anda terus-terusan berkompromi dengan hal yang selalu saja menyakitkan hati.
Mungkin untuk sekali dua kali anda dapat Berdamai dengan Hati Sendiri itu jauh diperlukan saat ini. Namun, ketika hal itu malah membuat anda semakin terpuruk saja, tinggalkan. Langkah yang anda butuhkan adalah menghormati hati anda dan Berdamai dengan Hati Orang Lain. Katakan, "cukup. Jika kau terus menerus tidak tegas terhadapku dan juga tidak mengerti posisiku saat ini, silakan cari orang lain. Terimakasih"
*Pilih Mencintai Diri Sendiri atau Mencintai Orang Lain ??*
Dalam beberapa kasus, mencintai diri sendiri itu tidak baik karena tergolong egois, individualis, dan bisa jadi takabur. Bukan itu yang akan saya bahas. Begitu pun dengan mencintai orang lain. Dalam beberapa kasus, mencintai orang lain ialah tindakan agung dan mulia. Tapi... tentu saja dengan cara yang benar. Ada saat dimana porsi mencintai diri sendiri dengan mencintai orang lain itu seimbang, 50:50.
"Cintai sekelilingmu, maka alam semesta mencintaimu," begitu katanya.
Lantas, dengan kita sibuk mencintai orang lain, apakah cinta untuk diri ini pantas untuk diabaikan??
Misalnya :
Ketika anda dihadapkan dengan keadaan dimana bayangan dirinya selalu saja menari-nari di kepala anda. Tidak sekalipun anda lupa mengulang kata-katanya. Setiap kejadian anda kait-kaitkan dengannya. Apapun yang terjadi antara anda dengan doi adalah suatu kebetulan yang apik. Lebih dari itu, bahkan anda telah berubah menjadi seorang yang rajin membaca, membaca history chat dengannya. Apa yang doi suka, anda juga menyukainya padahal dulu anda membenci hal itu.
Ya, anda sedang jatuh cinta. Tapi ingat, pepatah lama lebih sering benar "Cinta itu buta". Ya, kini anda jatuh cinta padanya.
Apakah anda termasuk orang yang senang sekali memberikan hadiah pada doi, padahal bulan sebelumnya anda mati-matian mengirit uang gaji anda agar bisa melunasi cicilan motor anda. Anda merasa rejeki anda lebih lapang setelah bertemu dengannya. Atau anda termasuk orang yang menjadi rajin mengkonsumsi informasi terkini agar anda jauh dari kehabisan topik bahasan saat berbicara dengannya. Saya tebak anda juga sudah sembuh dari penyakit lupa anda. Anda ingat betul kapan anda pertama kali kencan dengannya di tanggal 25 Mei 2012 pukul 19.10 di salah satu mall di Jakarta, dan anda ingat betul pakaian warna apa yang dikenakannya waktu itu, dan wangi parfumnya hingga sekarang masih melekat kuat di pikiran anda. Dan lebih parahnya lagi, anda kini berbakat jadi sekertaris pribadi doi. Anda selalu tepat waktu mengingatkannya makan dan tidur, begitu pula saat bangun tidur. Anda selalu tahu tugas kantor apa saja yang belum dikerjakan doi. Anda pun tahu jadwal doi belanja bulanan atau jadwal doi bermain futsal bersama teman-temannya. Dan saya beri anda selamat !! Anda berubah menjadi orang yang mengagumkan !! Setidaknya kini anda bukan diri anda yang dulu lagi.
Dulu anda benci olahraga. Kini anda mati-matian belajar taekwondo agar doi terpukau. Dulu anda selalu hadir di setiap acara kumpul di kamar sahabat-sahabat anda dengan segelas sirup jeruk, sepiring gorengan, dan semangkuk mie ayam. Anda akan tertawa terbahak-bahak sampai menangis karna kelucuan sahabat anda. Kini sirup jeruk, sepiring gorengan, dan semangkuk mie ayam itu telah berubah menjadi ayam goreng KFC atau seloyang Pizza Hut serta Chocholate Milkshake. Tawa anda yang terbahak-bahak itu kini berubah menjadi senyuman yang elegan. Dulu anda membeli baju dan sepatu saat lebaran saja. Kini setiap akan kencan dengan doi, sehari sebelumnya anda akan sibuk mematut-matut diri di depan kaca ruang ganti sebuah department store. Betapa mengagumkan anda !! Perubahan anda sungguh pesat !!
Tapi sadarkah anda, dalam diri anda ada rasa lelah yang tidak pernah anda sadari. Ya, lelah menjadi orang lain. Karna apa? Karna anda sibuk memantaskan diri untuk si doi dan karna anda takut doi akan meninggalkan anda hanya karna anda tidak bisa meninggalkan kebiasaan lama anda yang menurut anda bukan tipe yang doi suka. Ada keterpaksaan yang ditutup rapi dengan gengsi tinggi anda pada doi. Hormon anda sungguh membantu anda berubah dengan baik walaupun dengan napas yang tersengal-sengal.
Adakah cara lebih baik? Ada. Jadilah diri sendiri. Cintai dirimu sendiri apa adanya. Anda tidak perlu mengubah diri anda menjadi jetset untuk menarik perhatiannya. Setiap manusia punya caranya masing-masing untuk bisa menemukan belahan jiwa, dan tanpa anda tahu setiap pribadi sudah sepaket dengan kemampuan yang mengagumkan menarik perhatian lawan jenisnya.
Bukan berarti jalan yang sudah anda pilih sekarang ini salah anda jalani. Jalani selama anda mampu untuk merangkainya menjadi kisah hidup paling indah yang anda pernah lakukan. Jalani selama anda tidak merugikan orang lain. Jalani selama anda tidak menjadi gila karenanya...
For the last...
Jalan mana yang anda pilih ???

-Eswe 22th-
Written on the edge of Niagara Falls


Selasa, 17 Maret 2015

"Rubi"



Satu hal yang aku tahu. Aku kini telah senja. Dengan tubuh yang kadang gemetar, atau ingatan yang terkadang samar. Ketiga putri ku pun mulai dewasa. Satu per satu meraih asa. Membahagiakanku, walau kala nanti aku tahu mereka lena melupakan si tua ini. Tak terasa masa di mana aku menangis pedih. Masa ketika aku, si Rubi kecil yang tak memiliki ayah. Tawaku hanya pengelakan bahwa aku akan baik-baik saja bersama Ibu dan kedua kakak perempuanku. Walaupun cantiknya bulan, kemapanan, dan kebahagiaan bersama suami dan putri-putriku telah kuraih. Tapi dibalik itu semua, ada secuil luka yang masih basah. Tapi mungkin tak ada pilihan untuk menjadi bahagia layaknya orang yang memiliki ayah.
--
Kejahilannya masih sama seperti anak sebayanya. Namun ketika teman-temannya berbicara tentang ayahnya, gadis itu hanya bisa bungkam. Menyendiri dan berkata dalam hatinya, “aku baik-baik saja tanpa ayah”. Berkilah sekian lama dan harus selalu seperti itu. Menerima takdir bahwa kelahirannya tanpa ayah, karna ayahnya jatuh hati pada ibu lain. Ibu lain yang tak pernah ia anggap ada. Ibu lain yang selalu menyakiti hati ibunya.
--
Kami menyebut mereka keluarga yang tabah. Ibu mereka miskin dan harus buruh tani kesana kemari. Kakak pertamanya, Warti, terpaksa rela menikah di usia belia dengan seorang kepala desa. Tujuannya satu, demi mengangkat derajat ibu dan adik-adiknya. Kakak keduanya tidak bersekolah. Sehari-hari Warning ikut ibunya buruh tani di ladang orang. Dan si kecil Rubi, menjadi satu-satunya anak yang bersekolah. Kami pun percaya, Rubi lah yang akan mengubah hidup keluarga kecilnya suatu saat nanti.
--
 Ibu masih asyik bersama ayah dan cangkir teh favoritnya di balkon rumah. Duduk di bangku jati penuh ukiran kuno kesayangan ayah. Namun kisah pedihnya membayang-bayang dalam senyumnya. Setidaknya, Ayah selalu menjaga Ibu sampai sekarang. Bukan berarti Ayah tidak tahu kisah pahit Ibu. Hanya saja, Ayah berusaha membalutnya dengan kenangan indah mereka. Ayah tak akan pernah membiarkan sejarah kelam ibu terulang. Sampai saat anak-anaknya kini mengenyam sukses berkat keteguhan hati Ibu. Hati yang pada akhirnya memaafkan perbuatan Kakek dulu, yang memilih nenek lain dan mengacuhkan Ibu, nenek, dan kakak-kakak perempuan Ibu dalam masa-masa tersulitnya.
--
Aku tak dapat lagi mengelak bahwa sepenggal memori itu tetap bertengger dalam ingatanku. Bulir permata yang hampir jatuh di pelupuk ketika suamiku bertanya, “apakah kau sudah memafkannya? Biar bagaimanapun kita sudah senja.” Senyumku getir. Walau aku telah menutup mataku dan memalingkan pandanganku sejauh mungkin, tetap saja terlihat masih ada secuil luka yang belum sembuh. Aku tenggak teh cepat-cepat, berharap dengan itu perihnya hilang secepat hangatnya membalut dada.
“Semua yang Ibuku mau, dan semua impian kakak-kakakku sudah aku wujudkan. Aku butuh apalagi?” aku berusaha tegar.
“Apa patut kau melukai orang yang telah melukaimu?” yang aku tahu, kalimat ini sudah ku dengar puluhan kali.“Biarkan Ayahmu merasakan doa dari putrinya yang soleha, walau hanya sekali” tangisku pecah lagi, untuk yang kesekian kalinya.
Aku pun tak pernah tahu mengapa luka ini sulit sekali sembuh. Memori yang selalu saja terulang dalam bayang-bayang. Menyusup memenuhi ruang hampa yang berjelaga. Ketika Aku kecil harus mengemis pada seseorang yang seharusnya menyayangiku. Memori itu selalu saja terulang lagi…
“Pak, aku njaluk duite tenan iki. Gur rongatus perak wae. Wes sesuk-sesuk aku ra meneh ganggu-ganggu sampeyan,” Rubi kecil mengemis terisak demi ijazah sekolah dasarnya.
“Duit untumu!!!! Kono njaluk karo mbokmu, muliho kono!!” bentak Ayah pada putri kecilnya yang sedang memperjuangkan masa depannya.


-Eswe 22th-
Jakarta, 28'C
Minggu, 15 Februari 2015

Selamat Hari Kasih Sayang


Mungkin postingan ini bakalan gue kasih "#latepost" karna bisa dibilang Hari Kasih Sayang udah terjadi Sabtu kemarin. Tapi gue gak bakalan membahas masalah anak muda pacaran, atau gimana jomblowers ke gebetannya, atau para secret admire yang masih aja setia sama gacoannya. Karna itu udah terlalu mainstream...
Gue bakal membahas yang pasti-pasti aja. Kasih Sayang  yang tanpa batas. Kasih Sayang yang bakal lu dapetin Free tanpa Ongkir, bahkan kalo lu benar-benar orang beruntung lu bakalan Save 1 Get 1 Free... *gue ngomong apa lagi*
Ya, bener. Kasih Sayang orang tua yang gak pernah punya batas. Tapi gue gak bakalan ngebahas macem-macem tipikal para orang tua. Gue cuma mau curhat tentang kasih sayang orang tua gue ke gue. 
Pada awalnya gue mendefinisikan Kasih Sayang orang tua pada anaknya adalah dengan cara mengijinkan segala sesuatu yang anak mau tetapi tetap dipantau dengan baik. Namanya juga anak-anak, selalu berubah-ubah kemauannya dan selalu dalam jumlah yang banyak mengikuti apa yang ada dalam imajinasinya.
Gue sebagai anak perempuan terkeras kepala dari ketiga anak perempuan Bapak, selalu aja berantem gara-gara masalah susah dapet ijin kemana-mana. Walaupun pada akhirnya pilihan gue harus menurut apa kata Bapak, tapi gue selalu aja berargumen dan melakukan pembelaan terlebih dahulu atas segala kemauan-kemauan gue.
Mirip sepatu ProATT gue jaman dulu
Gue merasa gak adil disaat masa kecil gue selalu dididik layaknya seorang anak laki-laki yang tangguh. Sebagian besar pakaian yang gue punya selalu pakaian anak laki-laki. Di masa kecil gue, gue paling ngiri sama kakak gue yang punya sepatu flat warna merah dengan pita merah sebagai pemanisnya. Mirip sepatu ajaib Ruby Slippers yang dipake sama Dorothy di film The Wizard Of Oz. Betapapun gue merengek minta dibelikan pernak-pernik anak perempuan seperti mainan masak masakan dari alumunium, boneka barbie, atau bando yang ada rambut palsunya, tetap aja yang dibelikan Bapak adalah sepatu olahraga merk ProATT warna hitam yang modelnya cowok banget.
Mirip flatshoes kakak gue yang ada
di Film The Wizard of Oz

Gak cuma itu rasa iri gue ke kakak gue. Disaat kakak gue punya rok yang cantik-cantik, lagi-lagi gue dibelikan celana anak laki-laki yang memiliki kantong banyak di sisi kanan dan kirinya.
Celana kantong banyak
yang mirip punya gue
Gak berhenti sampe situ sob, bahkan model rambut yang gue punya, gak pernah lebih panjang dari bahu gue sampe gue diijinkan untuk mulai memanjangkan rambut gue di kelas 4 SD. Itu pun harus melewati kesepakatan sengit antara orang tua gue dan gue, karna saking gue gerah dengan semua atribut laki-laki yang melekat di diri gue.
Beranjak remaja, gue pun tumbuh dengan pola pikir anak laki-laki. Bergaya sok cool, tidak berdandan, dan GALAK !!! *emang cowok galak ya?* Tapi malah saat remaja ini adalah masa dimana Bapak melarang gue berperilaku seperti anak laki-laki.
Masih inget banget waktu gue ada acara Pramuka PERSAMI (Perkemahan Sabtu Minggu) di SMP. Padahal PERSAMI gue waktu itu termasuk masih kelas yang ecek-ecek. Acara itu mengharuskan para anggota Pramuka melakukan kegiatan di sekolah 2 hari 1 malam layaknya orang yang berkemah di hutan. Tapi ini di sekolahan sob!! Yang kalo lu kebelet pipis, ada toilet. Dan elu gak perlu khawatir kehujanan atau kedinginan karna lu bakal tidur di ruang-ruang kelas yang telah disulap jadi tempat tidur massal. Apalagi kekhawatiran pada hewan buas, yang kalo lu nginep di hutan bisa aja kejadian lu ketemu ular atau babi hutan. Tapi ini di sekolahan. Tempat berkemah ternyaman dan teraman yang pernah ada. Keesokan paginya, saat gue lagi apel di lapangan dan sedang asik-asiknya mendengar kakak pembina pidato. Seorang kakak pembina yang tadi gue lihat berdiri deket pintu gerbang sekolah nyolek-nyolek gue dari belakang. "Dek, ada orang tuanya pengen ketemu" begitu kata si kakak pembina. Sontak pada saat itu gue berpikir, emak bapak gue ngapain sih dateng ke sekolahan. Nanti kalo gue dikatain anak manja sama temen, mau ditaro mana muka gue? Gue dapati Bapak gue di luar gerbang sekolah membawa bungkusan plastik hitam, yang ternyata isinya makanan buat sarapan dengan jumlah banyak, berharap gue bisa bagi-bagi ke temen-temen gue. Namanya kemah, harusnya gak ada orang tua yang nyamperin bawa makanan enak buat anaknya. Kemah ya kemah. Dengan jatah makanan dari kakak pembina apa adanya. Setelah semua anggota pramuka dibagikan makanan, dan kami sama-sama membuka jatah makanan dan duduk berkelompok, masing-masing kami membuka jatah makanan. Begitu pula gue. Jatah yang didapat dari kakak pembina ternyata hanya nasi dan mi goreng instan. Gue pun dapat jatah satu porsi yang sama. Ketika gue buka bungkusan makanan yang tadi Bapak gue kasih, isinya adalah makanan mewah. Korean Barbeque, beberapa potong ayam panggang, dan gorengan Udang Tempura. Sumpah!! pada saat itu gue berpikir, GUE GAGAL JADI ANAK PRAMUKA... -___-"
Kisah lainnya saat gue pengen banget ikutan ekstrakurikuler Basket di SMP. Gue mengikuti masa percobaan anggota dengan sangat baik. Hingga tibalah waktunya bikin seragam team basket sekolah yang mengharuskan gue membayar Rp 50.000 untuk satu setel seragamnya. Kemudian saat gue minta uang ke Bapak, tiba-tiba aja gue dilarang ikut ekskul Basket. Gue merengek kayak apapun, tetep aja gue gak dapet ijin.
Kisah berikutnya, waktu gue pengen banget ikutan Pencak Silat di SMK. Ampe jumpalitan minta ijin ke Bapak tetep aja hasilnya "BIG ZERO". Kali ini gue sampe nangis-nangis gegulingan dan meratapi ketidakberuntungan gue jadi anak Bapak yang selalu aja gak dapet ijin ngapa-ngapain. Gue selalu menanyakan alasan kenapa mereka selalu gak ngijinin setiap apa yang pengen gue lakuin dan jawaban Mama cuma begini, "nanti kalo kamu jadi orang tua pasti ngerasain hal yang sama".
Lalu beranjak dewasa, kali ini adalah hasrat gue untuk mendaki Gunung Papandayan yang trek perjalanannya mengikuti trek anak Pramuka SD. Bayangin coba, di usia gue yang sudah mulai kepala dua, naik gunung yang medannya anak SD punya aja gak diijinin. Dengan bertengkar hebat gara-gara luapan emosi gue yang sudah gak terbendung lagi selama bertahun-tahun. Keluarlah kata-kata yang paling gue benci di dunia ini "Kalo kamu gak mau ikutin aturan di dalem rumah ini, kamu keluar aja sana, pergi dari sini!!!", bagitu kata Bapak.

Kadang kesadaran itu kita raih karna kita mencari kebenaran. Tetapi terkadang pula, tanpa dicari kesadaran itu muncul dengan sendirinya. Hingga pada suatu saat di tahun 2012. Tiba-tiba handphone gue rusak aplikasi javanya. Otomatis gue gak bisa ngegame atau gunain aplikasi bantuan. Info aja nih, itu handphone gue boleh dapet dari hasil gue ngumpul-ngumpulin duit jajan dan gaji PKL waktu jaman SMK. Handphone itu gue beli atas jerih payah keringet gue sendiri yang pada dasarnya gue cuma bandit kecil sekolahan yang beli pulsa aja masih ngandelin uang jajan dari orang tua. Handphone itu gue beli seharga Rp 1,6 jeti pada tanggal 2 September 2009. Ya, walau gak dipungkiri, orang tua gue termasuk ikut andil atas terlaksananya gue punya handphone sendiri waktu gue SMK.
Kembali ke tragedi rusaknya sistem java di hape gue. Pada saat itu gue memutuskan untuk mereparasi hape gue di konter hape temen kerja gue. Ini adalah saat dimana gue harus terpisah jauh dengan benda kesayangan gue. Apa yang gue rasain? Yakk, gak enak makan, gak enak tidur, khawatir kalo hape gue asal-asalan ditanganin sama yang bukan ahli, ngeri hape gue malah tambah rusak, ngeri data-data pada keapus. Pokoknya serba ngeri yang menjadikan hidup gue berasa gak tenang. Ditambah lagi, yang janjinya hape gue bener dalam waktu kurang dari seminggu, ini malahan udah dua minggu gak selesai-selesai reparasinya. Gue makin kalap. Itu tukang konter hape yang notabenenya adek kandung sohib gue di kantor, harus menanggung derita karena gak henti-hentinya dapet sms dan telpon dari gue untuk sekedar nanya gimana kabar hape gue. Mungkin pada saat yang sama sohib gue kesel sama gue yang terkesan tidak mempercayakan pekerjaan tersebut kepada adiknya karena adiknya mungkin merasa terganggu dengan sejuta teror gue. Hingga pada akhirnya dihari yang dinanti-nantikan gue bertemu kembali dengan hape kesayangan gue dalam keadaan "sudah sembuh". Kebahagiaan gue tak tergambar.

Dari kejadian ini gue sadar. Hanya seonggok handphone aja, yang kalo lo jual dan loakin cuma laku Rp 400ribu gue bisa sekalap itu. Gimana orang tua gue yang bertahun-tahun mulai dari berharap gue terlahir di dunia ini, membesarkan dan mendidik bertahun-tahun, sampe "sebenernya" gue bisa jaga diri gue sendiri, untuk semua kenangan susah dan senang yang mereka lewati dengan kehadiran gue. Gue jauuuuuuhhhhhh lebih berharga kemana-mana dari handphone itu. Jadi wajar aja, orang tua gue selalu protect gue semaksimal mungkin, supaya anaknya yang berharga ini tetap dalam keadaan baik. 
Gue salah mengartikan perhatian Bapak gue waktu membawakan gue makanan super lezat saat gue PERSAMI. Gue pun gak mikir, dari mana datangnya makanan mewah ini? Terus Bapak sama Mama apa juga makan ini di rumah? Semua itu gak punya alasan muluk-muluk selain "anakku harus makan makanan enak setelah lelah beraktifitas diluar rumah seharian kemarin". Dan pernak pernik perempuan masa kecil gue yang seandainya waktu itu gue dapatkan dengan mudah, gue gak akan jadi setangguh ini. Mungkin Bapak dan Mama gue sudah memperhitungkan masak-masak mau seperti apa mereka membentuk karakter gue. Ya, memang pada akhirnya gue sadar betul gue harus setangguh ini. Karna gue terlahir bukan dari keluarga bangsawan, bukan dari keturunan pengusaha, pejabat, atau artis yang hidupnya sudah kepalang enak sejak pertama kali nangis di dunia ini. Orang tua gue mengajarkan gue untuk berjuang sampai mati, berjuang untuk hidup yang semakin baik dari sekadar kontrakan pertama orang tua gue dateng ke Jakarta yang gak beda layaknya kandang ayam. Lagi-lagi gue anak perempuan. Orang tua gue gak akan membiarkan gue terluka sedikitpun saat gue main basket atau fight silat. Dan juga gak akan ngebiarin gue tersesat dalam segala keterbatasan tinggal di dalam hutan di sebuah pegunungan yang selalu aja nelen signal provider gue tanpa ampun. Tidak, mereka gak akan membiarkan itu terjadi *telenovela mode on*.

Ya, gue tau betul seberapa besar kemampuan gue menjaga diri gue sendiri. Dan itu selalu dirasa belum cukup oleh para orang tua yang menyayangi anaknya. Mereka selalu beranggapan bahwa di sisi mereka lah anak-anak mereka akan merasa aman. Dan seharusnya gue gak perlu merasa egois atas apa yang menurut gue baik buat gue dan memandang orang tua gue kolot karna sulitnya meminta ijin kemanapun gue melangkah. "Biar bagaimanapun gue anak perempuan". Ya, sekuat dan sehebat apapun anak perempuan, tempat terbaiknya ialah di rumah, seperti firman Allah SWT berikut:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً
Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al Ahzab: 33).
Sekarang gue ngerti apa itu kasih sayang sesungguhnya. Gue ogah alay membahas gebetan, cidekan, atau gacoan yang selalu bikin anak muda jadi galau. Kasih sayang orang tua gue ialah kasih sayang yang menempati singgasana kedua tertinggi setelah Allah. Gue gak pernah melihat sedikit pun tindakan mereka yang menjerumuskan gue kepada kesesatan atau marabahaya. 
Kasih sayang tanpa batas. Bapak gak pernah menolak kalo gue minta anter jemput kemana pun. Walaupun sesekali mengeluh, sampai setua ini putri keduanya masih suka minta anter kemana-mana, tapi Bapak selalu siap dengan motor bebeknya mengantar gue dalam kondisi hujan dan panas, gelap dan terang.
Kasih sayang tanpa batas. Mama yang selalu gak lucu kalo ngebanyol dan selalu susah fokus dengerin curhatan gue. Tapi Mama selalu hadir saat gue merintih kesakitan. Selalu berusaha memberikan masakan terbaik dikala uang belanjanya super tipis.
Aduuhh... gue jadi nangis nih sob.. :'| gue keliatan gawat banget nih kalo mewek gini... Air mata gue mahal, semahal mobil Pajero Sport atau Lamborghini gitu... Yakk.. ilaaahhh... kagak mau berenti nih sob... Mungkin ini adalah akhir dari curhatan gue yang gak ada manfaatnya... Ya emang, gue rada aneh karna suka tiba-tiba nongol dengan artikel naas gak ada harganya, padahal eksis juga enggak gue mah....

Happy Love Day
-Eswe, 22th-
Diposting dari bawah Menara Eiffel yang romantis

Rabu, 21 Januari 2015

MR AND MISS APPLICATION


Miss Application
Hai sob, ketemu lagi dengan pembahasan yang udah lama marak terjadi di dunia permayaan sosial media. *gue ngomong apaan sih???*
Yakin 100% kalo usia produktif bangsa Indonesia jaman sekarang pada melek social media. Okeh, boleh kalian kasih applause untuk hal ini. Tapiiii...... Inget, bukan berarti juga keunggulan kalian dalam bersosial media itu patut di beri applause untuk beberapa kasus. Apalagi untuk hal yang dapat membahayakan diri. 
4l4y    : Wh444444tttt???!!!!!.... S0c!4l m3d!4 b!z4 m3mb4h4y4k4n d!r!????
Eswe  : Yap, that's right!!
Cabe  : Pi khan guw gag nah ktmu lgsg scr fisiq, mn bs stranger sebrang nyaqtin guw??
Eswe  : Okeh, gak secara fisik sih, tapi lewat nama baik lo...
Cabe  : Guw sih gag prcaya sm yg kyk gtu, sosmed kan cm bwt fun fun doankz...
Eswe  : Talk to my hand.........!!!! *harap maklum, gue udah kesel ngomong sama spesies aneh -__-"*

Start from this. Siapa pun lo, apapun jabatan lo, pendidikan lo, status sosial lo, usia lo, pekerjaan lo, apapun hewan peliharaan lo, atau siapapun nama Pak RT lo, kalo di gadget lo ada aplikasi yang beberapa gue sebut  di sini :
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Path
  4. Instagram
  5. Pinterest
  6. Ask.Fm
  7. Google+
  8. Skype
  9. BBM
  10. Whatsapp
  11. Line
  12. WeChat
  13. KakaoTalk
  14. SKOUT
  15. Facebook Messenger
  16. Badoo
  17. BeeTalk
  18. Viber
  19. KIK
Okeh, fixed. Elo anak gahooll gheellaakk...
Gaul belum tentu kece sob, bisa jadi lo terjerat dalam gaulnya alay atau gaulnya cabe-cabean. Dan gue saranin jadilah anak Indonesia yang "Gahooll Ketjehh"... Gue juga sangat menghargai usaha kalian ingin menjadi manusia sosial populer lewat instalan aplikasi yang segambreng itu di gadget lo. Karna gue gak bisa bayangin betapa sibuknya kisana dan nyai menjalankan semua aplikasi itu dalam sehari, sendiri. Wish that you could earning well from those things :)
Tapi berapapun dan apapun aplikasi yang terinstal di gadget lo, kalo aplikasi itu salah satu dari aplikasi yang gue sebut di atas, SELAMAT...!!!!!! Anda telah dinobatkan menjadi "Mr. and Miss Application" *kemudian suara halilintar*
Budi  : Sob, kenalin nih temen gue.
Sobri : Wuueeedeeyy, temen dari aplikasi mana lagi nih Bud??
Budi  : Aplikasi gue yang  terbaru... Hahahhaa
Sobri : Hahhahaa
*kemudian mereka hidup bahagia selamanya*

Maraknya pemberitaan wanita diperkosa oleh teman chattingnya dan dibunuh di rawa-rawa *kayaknya bukan Hayati* ini memicu gue untuk menulis artikel ini. Sebab yang gue tau dari insiden pemberitaan tersebut di atas ialah berawal dari chattingan, dan sepertinya ranah ini perlu dibahas karena hampir semua orang di dalem tije yang gue tumpangin setiap harinya adalah Mr. and Miss Application. Termasuk gue. Sungguh ini gak bisa dibiarin menjadi kejahatan yang merajalele merajalela.
Kalo boleh dirunut kejadiannya, mungkin si -sebut saja Hayati- dan si -sebut saja Ceking- adalah dua insan yang ternyata saling mengenal lewat sosial media. Kemudian hari demi hari percakapan mereka semakin intens sehingga pada akhirnya mereka bertemu di salah satu kota di Indonesia. Mereka berdua sama-sama bukan warga kota tersebut. Dari pertemuan tersebut akhirnya Hayati mengakhiri hidupnya. Sebenarnya dari cerita ini apa yang salah dari chattingan?? Mari kita kupas serentetan scene sebelumnya.
Diketahui bahwa Hayati mengaku seseorang yang masih berkuliah padahal SMA aja gak lulus, dan dia asli orang kampung biasa. Kemudian si Ceking mengaku sebagai orang kantoran lulusan universitas ternama, padahal aslinya tukang bangunan dan SMP aja gak lulus. Mungkin mereka saling flirting flirting waktu chatting, jadi bablas nekat ketemuan untuk hal yang enggak penting. Dibunuh deh, setelah kehormatannya direnggut...
Na'uzubillah minzalik...

Jujur, gue pun adalah salah satu Miss Application. Tapi gue adalah golongan Miss Aplication yang Gahooll Ketjehh. Wkakakkaka.... Dan kenapa juga gue bangga banget??!! Hahhahahaaa....
Jadi gini Sob... Demi menghindari kasus-kasus kejahatan seperti di atas gue punya kiat-kiat khusus. Insya Allah ini bakalan protect lu semua khususnya para wanita supaya terhindar jadi korban kejahatan. Tapi yang perlu kalian garis bawahi ya Sob, di sini gue bukan sedang mengajarkan cara beragama atau memihak ke suatu agama tertentu. Gue juga bukan seorang Muslim yang terlahir dengan pengetahuan agama yang expert. Gue orang biasa yang mencoba berbuat baik setiap harinya. Bukan maksud menggurui atau menjudge apa yang kalian lakukan itu salah. Saya ini manusia yang miskin ilmu tapi berniat memperbaiki dan memberikan yang terbaik setiap hari. *yaudah sih Lan... -___-" kapan ngomongin kiat-kiat nya??*
Mariiii....

Selalu Status Awas
Stranger : "gue minjem duit donk, butuh banget. Ibu gue sakit"
Lo         : "kalo pinjem lima juta dikembaliinnya kapan?"
Stranger : "abis gajian pasti gue transfer balik. gue butuh banget sumpah. masa kita udah tahunan chatting lu gak percaya sama gue..."
kemudian ditransfer, dan beberapa hari kemudian pas lo chat dia...
semua kontak deactive, dia menghilang bersama uang lo....
Jangan mudah percaya pada stranger. Sikap curiga perlu selalu kita tanamkan walaupun kita udah chattingan selama 12th sama tuh stranger. Jangan selalu berikan terkait dengan apa yang mereka minta dari diri lo. Walaupun lo udah percaya penuh, walaupun dia mengaku anak Dewa, walaupun dia mengaku seorang pengusaha, atau dia adalah seseorang yang akan nikahin lo segera setelah lo memberikan apa yang dia mau. Buat para wanita, nyalakan alarm status awas. Biar bagaimanapun mereka hanya mengaku. Lo baru akan mengenal seseorang kalau lo minimal bertemu langsung selama beberapa waktu. Jangan mudah percaya pada semua pengakuan mereka. Karena jika ternyata mereka jahat, setelah apa yang mereka pengen dari lo  mereka dapatkan, mereka bakalan ninggalin lo gitu aja. Ninggalin lo gitu aja....... 

Beri Hal Yang Wajar
Budi    : "bungkus apaan Sob?"
Sobri   : "kado buat Wulan. Dia lagi suka banget sama buku trilogy ini."
Budi    : "gileee lu Sob. Tiga hari lalu lu baru kirim jam tangan. Lima belas hari lalu lu juga kirimin dia novel serial. Sekarang lu mau kirimin lagi??"
Sobri   : "yooiiiihhh...."
Budi    : "Sob, temen lu yang satu ini masih makan mi tiap hari. Mending lu beliin gue nasi padang..."
kemudian Budi mati....
Jika diantara kalian merasa ada kecocokan dan timbul kepercayaan satu sama lain, boleh kalian memberikan hadiah sebagai tanda sahabat sosmed. Tapi yang wajar aja. Lo harus tau betul ketika lo memberi sesuatu jangan pernah mengharap balasan apapun. Dan juga lo harus benar-benar sadar tujuan lo kasih sesuatu itu berguna bagi hidup lo dan orang-orang sekitar lo. Sekarang ini banyak loh yang rela kasih apa aja dalam bentuk materi maupun non materi. Yah, tau lah maksudnya... 

No Flirting
Stranger : "I love you so much"
Eswe     : "hhahaha.."
Stranger : "I really do.."
Eswe     : "preeeetttt....."
Stranger : "what? what is preeeetttt?"
Eswe     : "Never mind"
Kalo gue pribadi, selalu menyelipkan nama Allah dalam percakapan setiap chatting. Gue berikan pengertian ke mereka bahwa gue bukan seperti orang lain yang dari chatting rela menuruti semua yang stranger minta. Gue masih beriman pada Allah. Gue jadikan nama Allah sebagai pelindung diantara percakapan yang udah nyerempet-nyerempet ke arah flirting. Buat gue flirting di chat itu kampungan. Secara gue kan Miss Application yang Gahooll Ketjehh, jadi gue ogah flirting di sosmed. Karna secara gak langsung ketika gue ngeladenin orang yang lagi flirting-flirting, ketika itu pula Allah lihat betapa genitnya hamba Nya yang satu ini, ketika itu pula juga harga diri gue jatoh.
Tapi Alhamdulillah, ketika gue tetap berpegang teguh pada prinsip ini. Gak sedikit juga yang respect sama gue, berteman baik, kemudian kita selalu sharing hal-hal bermanfaat dari pertemanan kita. Jadi dapet pengetahuan baru dunia luar kan. Mereka bilang gue berbeda dari Miss Application kebanyakan. Ya.. Alhamdulillah... 

Jangan Nyerempet
Eswe     : "I think its time to sleep now, vry vry sleepy.. ~_~"
Stranger : "Oke, will talk tomorrow. Good night.."
Eswe     : "Oke. Night.."
Stranger : "Sweet dream.. :)"
Eswe     : -____-" *ngomong ama bapak gue coba kalo berani*
Hindari kata-kata yang terkesan terlalu manis atau agak-agak romantic. Biasa aja kali, kayak ngomong sama temen lo. Tapi gue rasa, beda negara beda ngartiin sebuah text ke dalam ekspresi sebenarnya. Gue kasih info aja nih yak.. Cewek Indonesia (kecuali gue) paling gak tahan dimanisin dan disanjung-sanjung sama orang bule. Di mata cewek Indonesia, keturunan blasteran atau foreigners itu adalah sosok dewa banget. Asumsi kebanyakan orang Indonesia terhadap foreigners adalah mereka lebih kaya, lebih ganteng/ cantik, lebih pinter, lebih gaul, dan lebih-lebih lainnya. Bagi siapa saja yang berhasil nikah sama orang bule, lo boleh mastiin kalo keluarganya, eh tetangganya juga, bakalan merasa bangga dan rasa bangga ini menurut gue lebay abis. Padahal si bule itu bisa jadi kemampuannya jauh di bawah kita.
Back to main topic. Nah itu tadi kebiasaan mendewa-dewakan orang bule, menjadikan masyarakat Indonesia terlalu kegeeran kalo dimanisin dikit aja. Padahal bagi seorang bule ngomong "sweet dream" itu adalah hal yang biasa ia lakukan ke teman-temannya -entahlah-. Jadi, kalo lo nemu bule yang terlalu manis ke lo, jangan langsung lu tanggepin wah. Bisa aja persepsi lu beda sama dia. Ingatkan dia, bahwa kata-kata nyerempet seperti itu, bisa disalah artikan oleh orang pribumi. Kecuali, kalo emang lo niatnya mau lanjut ke flirting-flirting, trus berencana ngedapetin hatinya dia. Gue cuma bisa bilang.. "selamat berjuang... !!"

Apa Adanya
Stranger  : "Kamu anak mana?"
Lo          : "Jakarta dong..."
Stranger  : "Wah, aku juga Jkt. Jkt mana?"
Lo          : "Sawangan. Tau gak?" (yaelahh.. sawangan masuk Jawa Barat kali.. -__-")
Stranger : "ooo.. Kuliah apa kerja?"
Lo         : "kebetulan masih smtr 5 di FE UI. Kalo lo kerja apa kuliah?" (padahal SMP aja Drop Out)
Stranger : "gue kerja di daerah sudirman, jadi tax staff" (padahal pengangguran)
Lo         : "wow.. keren yaahh.. bisa kali ketemuan..."
Stranger : "iya tuhh.. kapan nih enaknya?"
Gue takut banget yang kayak begini bakalan berakhir seperti nasib Hayati dan Ceking. Plis banget, jujur deh sama diri lo sendiri. Terima keadaan lo sekarang. Jangan meninggi-ninggikan derajat secara bersilat lidah. Apa adanya aja. Misal karakter lo di dunia nyata adalah sosok yang pendiem, ya kalo di dumay usahakan jadi diri lo seperti yang di dunia nyata. Minimal banget kalo lo emang mau terlihat berbeda ya sewajarnya. Jangan waktu di chat elu orang yang banyak omong, eh pas ketemu lo nunjukin 180 derajat sisi diri lu. Percaya deh sob, jujur itu awal dari kesuksesan. Gak perlu cerita mengada-ada untuk sesuatu yang gak pernah lo alami dan lakuin. Selain menambah dosa, itu hanya membuat lo jauh dari diri lo sendiri karna lo selalu lari dari kenyataan hidup lo. Siapapun pasti gak mau kan kalo kenalan sama cowok/ cewek yang udah boong dari awal. Awalnya aja udah diboongin, gimana ke belakang-belakangnya.. Be honest.. Tentang semua yang ada pada diri lo. Baik nama lo, tanggal lahir lo, status sosial lo, pendidikan lo, nama pakde lo, sampe nama planet lo, pliiiiisssss...... jujur aja.. Semua yang berawal dari jujur, Insya Allah baik ke belakangnnya.

Jadilah Duta Indonesia
Situasi 1
Stranger  : "whre u from?"
Eswe      : "Indonesia"
Stranger : "Owww.. Bali.. Nice :)"
Eswe    : "Yeaah,, But Indonesia not only Bali. U hv to find another magical world in Indonesia. We hv Mount Bromo, Dieng Plateu, Bunaken, Belitong, Toba Lake, #$&*((#@@&*(_))(&%$#@#%&^(*)_(_"?":}{+__))((&&^^%$$%# blaaaa... blaaa... blaaa..."
Stranger : "Wow, I think I hv to explore more Indonesia"
Eswe     : "Yeah.. U should... "
Situasi 2
Stranger  : "mmm.. actualy i nvr know whre is Indonesia"
Eswe      : "ooo.. I think u'll be fallin' love with Indonesia if u know us.."
Stranger  : "u really?"
Eswe     : "I do. Indonesia has many beautiful places. U cant imagine what we have. And we hv hundred cultures, local languages, !#*(*)(+_}""">?>)((^%%##$!@^_)+*/*?>:L":{:>":::}+(*(&&^%##@@ blaaaa... blaaaa... blaaa..."
Stranger  : "Woowww.. *___*"
Sadarlah bagi kalian bangsa Indonesia yang belum bisa kasih apa-apa buat Indonesia lewat prestasi-prestasi gemilang lo, minimal banget nih yaakk.. Lo harus sadar betul bahwa kelakuan lo di sosial media itu adalah cermin Indonesia di mata bangsa asing. Jadi berkelakuanlah yang baik. Jangan jadi parasit bangsa, yang udah gak bisa kasih apa-apa buat Indonesia, tambah lagi lo ngerusak image Indonesia di mata dunia. Jadilah bangsa Indonesia yang membanggakan. Lo gak perlu jadi menteri, atau selalu menangin kejuaraan olahraga dunia. Itu udah porsi masing-masing orang. Kalo lo merasa bukan atlit, budayawan, politisi, atau akademisi yang prestasinya sampe mbludak-mbludak ke dunia, alias lo orang biasa, gak perlu muluk-muluk mau kasih yang wah buat Indonesia. Cukup mulai dari menjadi warga negara yang baik yang tidak membuang sampah sembarangan dan punya personality yang baik di hadapan orang lain. Udah otomatis lu telah dinobatkan menjadi "Duta Kecil Indonesia", salah satu pahlawan tanpa tanda jasa.

Ini adalah artikel yang gak bakal berguna kalo lo baca. Tapi akan jadi berguna jika lo jalanin juga. Ketika lo udah berhasil ngejalanin di diri lo, akan lebih berguna lagi kalo lo mengajarkannya ke orang lain. Inget ya... jadilah "Mr./Miss Application Gahooll Ketjehh".
Maaf, penyampaian tulisan ini gak pake EYD. Dengan tujuan, menarik perhatian baca kalangan menengah agak ke bawah agar mudah dicerna, sehingga mudah untuk diaplikasikan pada pemuda Indonesia yang udah gawat banget pergaulannya.

-Eswe 22 th-
Salam Pemuda Indonesia
Salam Miss Application


Minggu, 11 Januari 2015

SAJAK DIRIMU


Jikalau aku menjadi bintang
Biar penat aku menjadi bulan saja
Karna bintang sepertimu
Terlahir akbar
Terlahir benderang
Sedang aku gelap saja
Kecil
Bukan apa-apa

Terus saja kerlipmu menghias langit
Biar penat aku menjadi bulan saja
Yang setia berkawan dengan matahari
Dan mati
Tak mengapa

Indahmu setiap waktu
Sedang aku sebentar saja
Pada malam samudera menyambut
Lebih dekat
Lalu memancar palsu
Meluntur indahku dalam masanya

-Eswe 22th-
Di tulis dalam gelapnya rembulan
Jumat, 12 Desember 2014

BALADA KAMAR MANDI


Heyy,, Sobhh.. Seperti biasa gue mau sharing cerita gue yang limited banget. Gue udah berusaha setegar mungkin untuk nge-keep cerita ini dalam-dalam. Tapi sorry to say, gue gagal.. -__-"
Oke, kali ini kita ngebahas tentang "Balada Kamar Mandi". Lu semua pasti pernah mandi kan sobb?? Oke lupakan... -__-" Gue lupa banget kalo masih ada spesies yang punya prinsip enggak mandi, "Bath Haters". Tapi meskipun spesies yang satu ini gak pernah mandi, setidaknya mereka yang bangga dengan prinsipnya ini pernah masuk ke kamar mandi. Walaupun masuk ke kamar mandi adalah wujud kamuflase para "Bath Haters" tetap terlihat normal seperti orang kebanyakan.
Jadi yang gue pengen sharing disini adalah kisah nyata pergolakan dengan kamar mandi selama gue hidup 21 tahun ini. Gue yakin banget, sobat-sobat pembaca juga pernah mengalami hal serupa. Tapi cerita ini bertajuk nonfiksi, jadi bilamana ada kesamaan tokoh di dalamnya, itu diluar tanggung jawab gue,,,, :D

Sabun Batangan Durjana
Para sobat yang rajin mandi pasti sering mengalami hal ini. Yap.. Pas lagi asik-asik sabunan pake sabun batangan, bentar-bentar jatoh ke lantai kamar mandi. Hal ini bikin gue merasa failed banget. Udah gitu harus mungut sabunnya di lantai, trus dibersihin dulu, baru sabunan lagi dari ulang. Eeehh... tiba-tiba jatoh lagi sabunnya. Otomatis gue harus ulangi lagi adegan mungut sabun di lantai - bersihin sabunnya - sabunan lagi dari ulang - eh, jatoh lagi - mungut sabun di lantai - bersihin sabunnya - sabunan lagi dari ulang - eh, jatoh lagi - mungut sabun di lantai - bersihin ....... udaaahhh sttooppp............gue nyerah, mungkin ini salah satu alasan yang traumatik bagi para Bath Haters.
Gue adalah tipe orang yang paling gak suka dikerjain apalagi berulang-ulang. Dan durjananya, hanya seonggok sabun batangan lah yang berhasil ngerjain gue sampe kadang gue menghabiskan waktu satu jam sendiri di dalem kamar mandi cuma buat ngulang adegan....... ah sudahlah, lupakan... Tak akan ada habisnya.. -___-"

Salah Properti
Untuk hal yang satu ini lu bakalan merasa krik banget ketika lu sadar lu salah bawa properti mandi. Bagi yang biasa bangun pagi dan langsung mandi juga tidak lupa menggosok gigi, jangan pikir kita-kita ini selalu mulus melakukan rutinitas pagi yang selalu dielu-elukan khalayak sebagai anak rajin. Gue rasa lu juga pernah ngalamin ini kan??!!
Alkisah, ketika gue seperti biasa harus bangun pagi dan langsung menuju ke kamar mandi. Setengah tertidur dengan mata yang tidak genap, juga mimpi yang masih sedikit tercampur aduk ketika gue jalan menuju ke kamar mandi. Seperti biasa sebelum masuk ke kamar mandi, gue selalu ambil handuk dan gue sampirin di cantelan anduk di tembok. Entah apa yang membuat mata gue ini susah melek yang membuat gue mandi sambil ngimpi. Nah, bingung kan lu? Ya, mandi sambil mata masih merem. Ritual mandi udah selesai, mata juga udah kebuka, tapi kesadaran belum genap 100%. Pas gue pengen pake handuk, yang gue liat di hadapan gue adalah kain sarung tidur gue. Selang beberapa detik gue mikir sambil menelaah, kenapa sarung gue disini? Dari beberapa kain yang ada di cantelan kamar mandi, gue kaji satu-satu secara perlahan. Gue masih belum menemukan handuk yang biasa gue pake. Oke fix, gue baru sadar gue salah bawa, yang gue bawa bukan handuk tadi, tapi sarung -___-"
Gak selesai dengan itu, dilain kesempatan dalam case yang sama gue malah melakukan hal yang lebih parah dari sekedar kain sarung. Yak, entah syndrom apa yang meracuni otak gue yang lemah ini. Ketika gue menelaah satu persatu kain yang nyantol, gue menemukan benda yang gak lazim ada di kamar mandi. Oke fix, gue baru sadar gue salah bawa lagi, yang gue bawa bukan handuk, tapi sajadah -___-" *kemudian suara halilintar*

Gayung Keramat
Marak cerita masyarakat tentang nenek gayung yang mematikan yang sedang menyebar ke seluruh penjuru daerah pulau jawa tengah asyik meneror warga sampai hadirnya film nenek gayung di bioskop. Jangan lu pikir sob, gayung itu adalah satu dari sekian properti mandi yang sepele tapi yang paling penting. Lu gak punya gayung, itu artinya lu bukan orang sukses. Kenapa? Pikir coba, gimana cara lu nyiram air dari bak ke badan lu. Dan naas nya sob, pas gue berusaha menggenapkan nyawa di pagi hari di dalem kamar mandi dalam keadaan mata segaris, gue tidak menemukan keberadaan gayung keramat warisan leluhur kerajaan majapahit gue. Rasanya sob, lebih galau dari diputusin doi atau lebih galau dari wifi yang susah banget kesambung gegara salah password. Alhasil, gue mesti keluar kamar mandi lagi dan nyari keberadaan gayung tersebut. Ini sumpah, pagi yang krik banget.

Peradaban Asing
Selain sebagai sarang jin dan setan, kamar mandi juga kerap dijadikan sarang serangga dan binatang. Ini adalah hal yang paling menguras keringat ketika di dalam kamar mandi. Mungkin sobat-sobat juga pernah ngalamin kejadian ini. Kamar mandi rumah gue itu seperti peradaban para serangga dan binatang lain. Dibandingkan kamar gue, kamar mandi memiliki variasi fauna yang lebih banyak.
Kecoa. Serangga yang paling lazim ada di kamar mandi. Mangkanya, setiap ketemu kecoa udah bukan hal yang menakutkan lagi, karna udah biasa ketemu dan hampir tiap hari. Untuk melawan kecoa, senjata gue adalah sebyokan maut. Menyiram itu kecoa dengan kekuatan penuh. Sampe itu kecoa nyerah dan kembali ke tempat persembunyiannya. Dan saat gue berkelahi dengan kecoa, satu yang gue harapkan, kecoa itu gak akan terbang ketika gue serang. Karna kalo kecoa udah terbang, susah banget dikalahin sobhh...
Cacing. Nah, binatang melata avertebrata yang satu ini adalah musuh bagi cewek-cewek ceribel. Ya, cewek-cewek yang bakalan teriak sampe seantero RW 05 keberisikan gegara tuh cewek ceribel ketemu cacing. -___-" entah betapa repotnya hidup cewek ceribel ini. Gue agak akrab sama hewan pengurai satu ini. Terkadang gue asik mainan cacing karna sampe segede ini gue masih bingung dimana letak kepala cacing. Kalo gue senggol salah satu ujungnya, tuh cacing bakalan jalan ke arah ujung satunya. Tapi ketika gue senggol ujung satunya, tuh cacing bergerak ke arah satunya lagi. Sempat berpikir kalo tuh cacing sebenernya menghindari jari gue dengan jalan mundur. Tapi hebatnya, cacing-cacing itu gak pake nengok atau belok untuk jalan ke arah yang berlawanan secara langsung.
Kelabang. Yak, mungkin serangga satu ini gak ada di kamar mandi rumah kalian. Tapi ada di kamar mandi rumah gue. Entah dari mana asalnya. Kelabang ialah serangga horor yang suka ada di film-filmnya Susana. Selain punya sengat beracun, kelabang ini juga punya kaki seribu sehingga jalannya cepet banget. Jujur sih, untuk serangga satu ini agak-agak takut gak takut. Gue pun mengandalkan pantat ember yang tajem untuk berusaha menghabisi nyawa tuh kelabang. Daasshhh !!! Kelabang pun terbelah jadi dua. Gue merasa menang ngelawan kerabatnya Susana. Dan lu pikir cerita perkelahian gue dengan kelabang udah selesai? Lu salah banget sobhh... Seketika, kedua bagian tubuh kelabang yang gue pikir dia udah tewas malah bergerak-gerak, masih sama lincahnya ketika tuh kelabang masih utuh. Sereeemm kaaann... >O<" Disini lah, sebyokan maut dikerahkan, juga bantuan mama yang sangat diharapkan.
Ula/ Ular. Binatang melata satu ini gue angkat tangan banget. Udah gak bisa ditanganin sendiri. Harus orang serumah bergerak semua. Kejadian ini ketika gue ambil air wudhu. Kebetulan pintu kamar mandi letaknya deket banget sama keran air wudhu. Okeh, gak ada apa-apa sampai disini. Lalu kakak gue lah masuk ke kamar mandi. Ada sesuatu yang aneh ketika kakak gue berusaha menutup pintu. Pintu gak bisa ketutup. Masih gak tau dimana letak kejanggalannya. Setelah kakak gue menelaah lebih seksama, jeeennggg.... jeeennggg... Seekor ular sedang kejepit di sela-sela engsel pintu. Kakak gue sontak teriak. "Baaappaaaaakkkkk... Ada uleeerrrr.." Sekarang semua anggota keluarga kumpul mengelilingi kamar mandi. Kakak gue masih menahan pintu supaya uler gak bisa kemana-mana dan tetep kejepit. Posisi kakak gue di dalem kamar mandi sendiri, sedangkan gue sama yang lainnya diluar. Pasti gelay banget kan lu sob, ketika lu nahan pintu yang gagang nya gak jauh dari tuh uler yang lagi kesakitan bergerak-gerak. Bapak gue ngambil galah bambu, seketika dibonyokin tuh kepala sama buntut uler. Ular pun tewas, dan kakak gue selamat... Eh, tunggu... Trus gue, adek gue, sama mama gue ngapain?? Ya, cuma ikutan teriak-teriak aja biar tambah heboh. Wkwkwkwkwk... XD
Laba-Laba. No comment sob buat yang satu ini. Gue lebih memilih pindah rumah ketimbang gue harus mandi dalam keadaan ada laba-laba yang sedang bertengger di tembok. Leave it... -__-"

Anarkis
Ini adalah keadaan dimana biasa terjadi di kos-kosan yang kamar mandinya gabungan, atau rumah yang cuma punya satu kamar mandi. Ketika gue lagi asik bersihin komedo di idung gue yang pesek ini di depan cermin, tetiba aja mama gue teriak sambil gedor-gedor pintu "Adeekkk... Mama kebelet... Cepetaaan mandinyaaaa..". Atau saat gue lagi asik ngelamun, tetiba aja adek gue teriak sambil gedor-gedor pintu "Mbbaaakk.... Cepetan doonkk... Udah muless aakuuuuu....". Atau saat gue lagi asik adu acting sama cermin, tetiba aja bapak gue teriak, tapi gak pake gedor pintu "Laaaannn... mandi jangan lama-lama... Udah siaannggg..." Kalo udah gini, gue gak perlu sedia jam di kamar mandi. Karna teriakan mereka pertanda bahwa gue sudah lebih dari setengah jam di dalem. Hhahahahaaa... :D

Itulah uniknya Balada Kamar Mandi di rumah gue yang selama ini gue simpen dalem-dalem. Meskipun pada hakikatnya berada di dalem kamar mandi terlalu lama merupakan keberhasilan setan yang membujuk kita untuk betah berlama-lama di kamar mandi. Sampai sekarang pun masih terus dalam perbaikan supaya bisa mandi cepet gak lebih dari 10 menit. Inget Sobh... terutama buat para Bath Haters... mandi itu penting, mandi itu supaya kita bersih, jauh dari bau badan dan daki berlebih. Bersih itu sebagian dari Iman. Maka dari itu sobbhh... Mandilah sebelum kalian dimandikan...
Bye maksimal......

-Eswe 21 th-
Dipublish dari dalam jacusi
Selasa, 02 Desember 2014

The Child - Misi Mulia Seumur Hidup Christopher Creighton


Ini malam keduaku tidak melihatnya diantara jajaran buku-buku yang sudah usang. Ya, dia adalah anggota baru dari buku-buku yang aku miliki. Memang tak banyak aku memiliki koleksi buku. Padahal membaca buatku adalah cara terbaik menghabiskan waktu berjam-jam di bis dengan keren. Hahhaha... 
Aku punya kebiasaan unik, yang mana membaca bagiku tak harus dari buku yang aku beli. Aku terbiasa meminjam koleksi buku kawan. Tentunya hal ini punya banyak alasan. Selain karna misi pengiritan yang efektif, meminjam buku tak akan membuatku  merasa kehilangan ketika sebuah buku yang telah mencuri hatiku tak ada dalam genggamanku. Ya, betapapun aku cinta pada sebuah buku pada akhirnya buku itu harus kembali pada pemiliknya.
The Child - buku yang baru sebentar saja berada dalam genggamanku. Ketika diri ini masih cinta, aku harus merelakannya menjalankan misi mulia. Membuat kawanku gemar membaca. Masih teringat jelas ketika aku capture buku The Child diantara tumpukan novel di Gramedia Cinere pada kawanku Husein. Aku katakan bahwa aku penasaran pada buku ini, dan aku berniat meminjamnya ketika teman ku yang book addict telah memilikinya. Ya, seperti biasa tidak membelinya.
Selang waktu berlalu ketika Husein datang ke Jakarta. Dia coba mampir ke toko buku, tapi tak mendapatkannya karna stok habis. Aku tidak mengenal Husein sebagai orang yang gemar membaca. Tapi rasa penasarannya yang tinggi pada The Child yang akhirnya membuatku berniat membelinya. 
Aku cari di beberapa Gramedia memang stok kosong. Ada perasaan kecewa ketika tak menemukannya. Lalu, aku coba ke Gramedia Cinere lagi. Tempat pertama kali aku melihatnya. Pertama kali bertemu The Child. Aku mencoba mencari di rak yang dulu ia bertengger indah. Tapi aku tak menemukannya. Sampai pada akhirnya muncul perasaan menyesal kenapa tidak membelinya dari dulu. Aku coba bertanya pada pramuniaga. Mencarinya di search engine, lagi-lagi tak menemukannya. 
Seorang gadis mungkin melihatku sedari tadi yang tampak seperti orang yang benar-benar sedang mencari. "Tadi saya liat di rak sebelah novel Percy Jackson," ungkapnya. "Bener The Child?" tanyaku. "Iya, yang gambarnya anak kecil kan?" gadis itu meyakinkan. Aku segera meluncur ke arah rak, "Makasih mbak..." 
Ya, dia ada. hanya tersisa 5 eksemplar. Dengan mantap aku mengambilnya dan aku dekap erat. Seperti mendekap seseorang yang telah lama pergi. Perasaan yang amat sangat bersyukur sekaligus riang bukan main. Aku telah memiliki teman baru, dan aku sangat tidak sabar untuk mendengarkan kisahnya. Ya, kisah seorang anak bernama Christopher Creighton.
Hari ke hari, dengan sabar dan antusias, aku mendengar sepenggal demi sepenggal kisah yang menjadi rangkaian cerita hidup paling menakjubkan seorang anak yang masih berusia belasan tahun. Ketika dia menjalankan misi yang diberikan pimpinannya hanya seorang diri. Tanpa tim dan bukan lagi untuk kepentingan kelompok. Tapi segala apa yang dilakukan adalah untuk negaranya. Negara Inggris yang tengah berada dalam kemelut Perang Dunia II. Anak belasan tahun yang dengan kecerdasannya dapat menyelesaikan misi ditengah-tengah kekejaman rezim Hitler. Anak belasan tahun yang berkawan dengan suara bom peperangan, peluru-peluru, deruman tank-tank, darah-darah korban, penyiksaan intelijen, hingga prajurit-prajurit tangguh yang sebenarnya jauh lebih tua darinya. Namun Christopher tetap anak remaja biasa. Yang butuh mencintai dan dicintai seorang Patricia. Gadis yang lebih tua darinya.
Aku mengenal Christopher sebagai orang yang melakukan sesuatu dengan nurani. Segalanya perlu pertimbangan moral kemanusiaan. Walaupun musuh, jika orang tersebut tak bersalah apa-apa, Christopher tak akan tega menyakitinya. Walaupun ia berhadapan dengan keharusan membunuh, tetap saja rasa bersalah dalam dirinya berkecamuk hebat. Christopher tidak dilahirkan sebagai pembunuh berdarah dingin. Bukan sebagai intelijen biasa. Dia dilatih dan dibentuk menjadi seorang intelijen yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Aku belajar banyak darinya. Tentang persahabatan, keluarga, kerabat, bahkan hubungannya dengan Mr. Churchill seperti anak dengan orang tua. Kepercayaan, kejujuran, keterbukaan dan komitmenlah yang membuat mereka menyelesaikan misinya dengan baik.
Kini Christopher dan aku telah menjadi teman baik. Aku titahkan padanya sebuah misi mulia seumur hidup. Ya, membuat kawanku Husein menjadi gemar membaca. Setelah itu, aku perintahkan misi lanjutan untuk membuat orang-orang disekeliling kawanku Husein ikut gemar membaca. Misi yang membawa Christopher dan aku bertemu pada persimpangan jalan di hari kepulanganku nanti. Ya, hari dimana manusia selalu bersama dengan amal, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang sholeh.
"Aku memerintahkanmu dalam misi paling mulia sedunia. Buat alam semesta gemar mempelajari ilmu pengetahuan dari kisah-kisahmu. Atau kisah teman-temanmu sewaktu kau bertengger di rak buku Gramedia. Oleh karna itu, tugasmu untuk terlihat menarik untuk dibaca. Temani ia hingga ia mencintaimu sama seperti aku mencintaimu. Mungkin di awal pertemuan kalian akan berlangsung tidak menyenangkan. Mungkin saja ia mengacuhkanmu dalam beberapa waktu. Tapi jangan menyerah Christopher. Aku percaya kau selalu punya cara untuk menyelesaikan misi mu dengan baik. Tenang saja, teman-temannya mungkin akan meminjammu darinya. Maka jalankanlah misi lanjutanmu itu. Jika temannya tidak memperlakukanmu dengan baik, pulanglah padanya. Aku mempercayakannya sebagai rumah kedua bagimu. Tapi jika ia sendiri yang tidak memperlakukanmu dengan baik, maka pulanglah padaku. Rumahmu di sini selalu terbuka.
Ingat Christopher, misi mu kali ini adalah misi mulia seumur hidup. Jadilah berguna bagi alam semesta..."

-Eswe 21th-
London, Inggris
Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Followers